Arti Sebuah Lomba Menulis Esai

Menulis sebetulnya sangat asing bagiku. Sejak dulu, aku tidak pernah tertarik dengan dunia kepenulisan. Aku bahkan belum pernah sekalipun menulis buku harian.

Membaca? Hanya buku-buku tertentu yang menarik minatku. Kecanggihan teknologi dan gaya hidup remaja zaman now, membuatku lebih sering mengakses cerpen dan berita melalui smartphone.

Memasuki dunia perkuliahan, membaca menjadi semakin jauh dariku. Kegiatan organisasi dan tugas kuliah sangat menyita waktu. Menyisihkan waktu tidur saja sulit. Membaca hanya sekedar materi seputar perkuliahan. Menulis hanya sekedar laporan praktikum dan resume materi kuliah. Duniaku seolah hanya sebesar fakultas. Miris!

Suatu hari di bulan desember 2017, tak sengaja aku menemukan sebuah poster lomba menulis esai di beranda instagramku. Mulanya aku ragu. Aku belum pernah sekalipun menulis esai. Namun aku sangat butuh uang untuk membeli laptop baru. Akhirnya, kubulatkan tekad untuk mengikuti lomba esai tersebut.

Kumanfaatkan waktu libur kuliah untuk mencari lebih banyak informasi mengenai lomba menulis esai. Aku tergiur dengan hadiah yang ditawarkan. Mulai dari uang ratusan hingga jutaan rupiah, bahkan paket liburan ke Korea Selatan. Tak tanggung-tanggung, aku akhirnya mengikuti empat lomba esai sekaligus walau tanpa pengalaman menulis sama sekali.

Aku mempelajari bagan esai dan tata cara penulisan esai lewat internet. Tak lupa aku juga membaca karya-karya esai yang pernah menang dalam lomba menulis. Kupikir menulis esai cukup gampang. Aku semakin percaya diri bisa menang dalam lomba esai.

Lomba esai yang kuikuti bertemakan cyberbullying pada anak, dana desa, wanita masa kini, dan LGBT. Tiga dari lomba esai tersebut berbayar. Aku meminta uang pada ayah dan ibuku untuk membayar biaya registrasi lomba. Kujanjikan kemenangan pada mereka dan mengganti uang yang mereka berikan padaku.

Aku mulai mencari bahan untuk menulis keempat esaiku. Kukumpulkan bahan esai dengan mengunjungi portal media online dan download sejumlah jurnal ilmiah yang relevan dengan tema lomba esai yang kuikuti. Setelah mengumpulkan bahan, aku mulai merancang garis besar esaiku.
Waktu itu memasuki akhir bulan februari 2018. Aku mulai menulis esai bersamaan dengan dimulainya kegiatan perkuliahan dikampusku. Kegiatan organisasi, tugas perkuliahan, dan menulis esai membuatku kewalahan untuk membagi waktu.

Aku bukan hanya kesulitan membagi waktu. Bagiku yang tak pernah menulis buku harian, mengetik satu paragraf menghabiskan waktu hampir satu jam. Ide dalam otakku tak mampu mengalir kedalam jari-jariku. Aku menyadari perbendaharaan kataku sangatlah minim akibat jarang membaca buku. Ternyata menulis esai hanya gampang dalam khayalanku saja. 

Meskipun kesulitan, aku tak patah semangat dan terus berusaha menyelesaikan esaiku. Kurelakan waktu tidur dan belajarku berkurang demi menulis esai. Esai pertamaku mengenai cyberbullying kuselesaikan dengan tertatih-tatih. Aku harus merelakan esai mengenai dana desa yang tak mampu kuselesaikan sesuai deadline. Seminggu kemudian kuselesaikan esai mengenai wanita masa kini. Kedua esai ini kukirimkan meskipun kepercayaan diriku semakin luntur akibat realita yang tak sesuai ekspektasi.

Aku mencoba berpikir positif. Peluang sekecil apapun tetaplah sebuah peluang. Aku terus memanjatkan doa kepada Tuhan semoga esaiku setidaknya bisa masuk tiga besar.

Hari pengumuman lomba esai mengenai wanita masa kini akhirnya tiba. Dengan perasaan ketar ketir aku mengecek hasil lomba. Ternyata, aku tidak menang. Jangankan masuk tiga besar. Namaku bahkan tidak ada dalam daftar 50 naskah esai terpilih yang akan dibukukan.

Perasaanku hancur bukan main. Percaya diriku seketika berada pada tingkat terendah. Aku menangis semalaman. Aku malu pada kedua orang tuaku karena telah berjanji akan menang dalam lomba yang kuikuti.

Aku jadi kapok menulis esai. Sulit untuk bangkit dari keterpurukan akibat kekalahan. Apalagi laptopku akhirnya rusak akibat kugunakan terus menerus untuk mengerjakan tugas kuliah dan mengetik esai.

Kubuka kembali naskah esai yang kukirim tempo hari. Kubaca dengan seksama dan kuteliti kesalahan-kesalahan yang ada. Harus kuakui tulisanku masih sangat amatir. Tak bisa dibandingkan dengan karya-karya penulis diluar sana yang telah sering memenangkan lomba menulis.

Namun aku menyadari sesuatu setelah membaca ulang naskah esaiku. Selama ini aku hanya berfokus pada kemenangan. Aku tak sadar puluhan lembar telah kubaca untuk menghasilkan satu esai saja.
Lomba esai mendekatkanku kembali pada aktivitas membaca. Meskipun tidak menang, tidak mendapatkan uang, namun aku tetap mendapatkan ilmu yang banyak. Kasus cyberbullying pada anak, gaya hidup wanita masa kini, proses pencairan dana desa dan manfaatnya untuk masyarakat Indonesia, hingga paradigma LGBT dari berbagai sudut pandang. Lomba esai memberiku kesempatan untuk belajar lebih banyak dengan topik yang beragam. Pengetahuanku kini tidak hanya sebatas pada rumus-rumus fisika saja.

Seminggu kemudian aku mendapatkan e-sertifikat sebagai partisipan lomba esai. Kutatap hasil perjuangan sebulan lebih beserta uang 25 ribu yang terpampang di layar laptop temanku. Tidak buruk, pikirku. Sertifikat partisipan sudah cukup membuktikan perjuanganku untuk menghasilkan sebuah karya.

Beberapa hari kemudian pemenang lomba esai mengenai cyberbullying telah diumumkan. Aku tidak menang. Juga tidak mendapatkan sertifikat. Padahal biaya lomba esai tersebut mencapai 50 ribu. Tapi tak apa. Ilmu yang kudapatkan sudah lebih dari cukup.

Kini aku semakin aktif mencari informasi mengenai lomba menulis. Esai, opini, karya tulis ilmiah, cerpen, hingga artikel, semua informasi lomba menulis kukumpulkan. Aku ingin mengasah kemampuan menulis dalam berbagai jenis tulisan. Aku terus menulis disela-sela kesibukan kuliah, meski harus mengetik dengan laptop milik teman.

Esai mengenai LGBT akhirnya mampu kuselesaikan. Walaupun masih kesulitan menulis, aku tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menulis satu dua paragraf. Aku senang melihat hasil tulisanku yang semakin membaik dari tulisan-tulisan sebelumnya. Kemenangan tidak lagi menjadi beban yang membuatku frustasi. Bagiku lomba esai adalah pintu untuk memasuki dunia kepenulisan. Mengenalkanku akan nikmatnya proses merangkai kata, menuangkan opini, dan menyajikan solusi dari suatu permasalahan.

Jalanku dalam dunia kepenulisan masih panjang. Dua kekalahan yang kurasakan barulah langkah pertama. Membiasakan diri membaca buku di perpustakaan adalah langkah kedua. Langkah ketigaku adalah menulis buku harian. Akan kucoba sebuah tantangan baru untuk langkah selanjutnya. Menulis sebuah cerpen mengenai pengalamanku dalam menulis.

Sumber : KPM Universitas Negeri Jakarta

Oleh Silvia Aprilia Qotrunnada
Aku lahir di Palu, Sulawesi Tengah, pada tanggal 12 April 1999. Aku besar di kota Palu, namun sejak tahun 2017 aku pindah ke Jember, Jawa Timur. Aku saat ini berkuliah di Universitas Negeri Jember, Fakultas MIPA Jurusan Fisika.


Arti Sebuah Lomba Menulis Esai Arti Sebuah Lomba Menulis Esai Reviewed by Pena Juara on May 31, 2020 Rating: 5

No comments


Image Link [https://1.bp.blogspot.com/-tQY9J_6x1G0/XtPfL8xajjI/AAAAAAAAAF4/8_PRPMvvniYMZxUj7vWIxYzIfiY4iXsHQCLcBGAsYHQ/s1600/POST%2BYUHUY-23-min.png] Author Name [PenaJuara] Author Description [Read. Think. Write.] Facebook Username [soratemplates] Twitter Username [soratemplates] GPlus Username [104219125408123734587] Pinterest Username [soratemplates] Instagram Username [penajuaracom]