Berkat Lomba Menulis, Aku Dapat Merasakan Bahagianya Menjadi Juara

Saat masih menjadi mahasiswi baru, aku diwajibkan untuk tinggal selama 1 tahun di Ma’had (asrama) yang berada di kampus. Berbagai kegiatan yang diadakan di ma’had membuatku semakin bingung untuk membagi waktu, antara kegiatan ma’had dan kuliah. Menyisipkan sedikit ruang untuk menyalurkan hobi sangatlah sulit, terbukti dengan tulisan-tulisanku yang tak pernah selesai karena tiba-tiba mood hancur karena kelelahan. 

Suatu hari, aku benar-benar ingin dapat menyalurkan hobiku dengan nyata dan tuntas. Aku berusaha mencari info lomba menulis dan bersikeras mengumpulkan tekad kuat untuk mengikuti lomba tersebut. Ternyata tekad kuat itu berbuah hasil, yakni salah satu UPKM (organsisasi) di ma’had ku mengadakan lomba menulis cerpen non-fiksi dengan tema bebas. Saat itu juga hatiku sontak bergembira dan segera menggali kenangan yang sudah lama ingin aku keluarkan dari dalam otakku. Alhasil, cerpen non-fiksi yang aku tulis hanya membutuhkan waktu semalam saja untuk menyelesaikannya. Memang benar, jika ada tekad kuat maka sesuatu yang kita kerjakan akan tuntas dan menimbulkan kegembiraan yang luar biasa.

Esok hari sebelum mengirim cerpen non-fiksi tersebut ke pihak panitia lomba, aku tak henti-hentinya membaca ulang cerita yang aku tulis dan tidak enggan untuk meminta pendapat dari beberapa temanku tentang cerpen non-fiksi yang aku tulis. Setelah kurasa cukup, dengan mengucap “Bismillaah” aku kirimkan naskahku ke pihak panitia lomba. Sembari menunggu acara puncak pengumuman lomba, aku tidak berhenti untuk meminta do’a dan dukungan dari keluarga dan teman-teman.

Seminggu setelah pengiriman naskah, acara pengumuman lomba dimulai pada malam hari. Acara dimulai dengan talkshow bersama penulis ternama sekaligus dosen di kampusku. Detak jantungku terasa berdebar, pandanganku kalut kesana kemari. Sesungguhnya, menang atau kalah bukanlah hal yang utama. Bagiku, menang ataupun kalah sama-sama memberikan tamparan agar tidak berhenti untuk terus belajar dan berkarya.

Detik-detik pengumuman pemenang lomba pun tiba, para hadirin dengan tenang mendengarkan MC membacakan urutan pemenang lomba. Juara harapan yang disebutkan ternyata bukan aku. Juara 3 yang disebutkan juga bukan namaku. Hati rasanya mulai pesimis, namun aku berusaha optimis, berhusnudzan kepada Allaah bahwa hasil yang aku peroleh pasti adalah ketentuan yang terbaik dari-Nya karena skenario-Nya lah yang terbaik. Mataku terus saja mengarah ke bawah sembari bibirku berkomat-kamit mengucap dzikir dengan penuh harap. Tiba-tiba dengan lantang kudengar MC menyebut namaku. Ya, namaku dengan lengkapnya. Alhamdulillaah, dalam perlombaan ini aku mendapatkan juara ke 2, yang sebelumnya aku tidak pernah mendapatkan juara dalam perlombaan menulis. Hal tersebut membuatku sangat bahagia karena setelah sekian lama, akhirnya ada yang dapat kuberikan kepada kedua orangtuaku.

Setahun sudah berlalu, saatnya aku menjadi mahasiswi yang sebenarnya. Terlepas dari padatnya kegiatan di ma’had dan hanya berkutat dengan aktivitas di perkuliahan. Namun, setelah terlepas dari ma’had pun rasanya tidak ada perubahan dalam kesibukan yang aku miliki. Semakin banyaknya jadwal praktikum yang ada membuat jatah istirahatku berkurang dengan melakukan aktivitas menulis laporan dengan tulisan tangan dan bolpoin biru. Banyak jurusan lain yang mengatakan bahwa mahasiswa Jurusan Biologi merupakan mahasiswa yang “Strong” karena siap untuk tidak tidur demi menulis laporan.

Padatnya aktivitas perkuliahan tentunya tak jarang membuatku merasakan sedikit kejenuhan dan membuat rasa itu kembali. Ya, benar, yaitu rasa ingin menyalurkan hobi menulisku, bukan menulis laporan tetapi menulis sebuah karya. Sayangnya, saat itu tidak ada lomba menulis cerita atau puisi yang dapat menjadi sarana untuk menyalurkan pikiranku. Sampai pada akhirnya, seorang teman laki-laki dari jurusan lain yakni Teknik Informatika yang dulunya merupakan teman satu kelas Program Pembelajaran Bahasa Arab (PPBA) mengajakku untuk mengikuti sebuah lomba menulis. Awalnya aku sedikit ragu, karena lomba menulis yang ditawarkan kepadaku bukanlah lomba menulis cerita ataupun puisi. Namun, lomba yang ditawarkan merupakan lomba menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang dapat diikuti oleh 2-3 orang mahasiswa yang boleh dari jurusan yang berbeda. Tawaran tersebut akhirnya kuterima dengan sedikit berat hati.

Waktu berjalan dengan cepat, perjuangan kami yang terdiri dari 3 orang anggota (1 dari Jurusan Biologi dan 2 orang Jurusan Teknik Informatika) berujung pada presentasi Karya Tulis Ilmiah yang kami buat. Rasa gugup yang amat sangat menyertai tubuhku sehingga ketika lisanku berucap di hadapan ketiga juri sangatlah tidak karuan. Untungnya, kedua teman laki-laki ku berusaha untuk menutupi kesalahan yang aku perbuat. Alhasil, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh ketiga juri rata-rata dijawab oleh mereka karena disitu aku merasa tak sanggup untuk berucap kembali. 

Selang seminggu setelah presentasi, pengumuman pemenang lomba diadakan di malam hari yang diramaikan dengan adanya Band yang didatangkan dari luar. Rasa kalah yang menyelimuti pikiranku membuatku tidak mood lagi untuk mengetahui siapa pemenangnya. Namun, salah satu teman kelompokku meyakinkanku bahwa ada hawa-hawa menang untuk kelompok kami. Kalimat yang dilontarkannya membuatku sedikit berusaha meyakinkan diri bahwa kita dapat menjadi juara.

Acara puncak pengumuman pemenang yang dilakukan pada malam hari membuatku tidak dapat menghadirinya, karena jarak rumahku yang cukup jauh dan mengingat diriku adalah seorang perempuan. Akhirnya, kedua teman laki-laki ku yang menghadiri acara puncak tersebut. Bermodal komunikasi lewat Whatsapp, kami bertiga hanya bisa saling menunggu dalam kalimat chat yang tersurat. Waktu pengumuman yang sangat larut akhirnya membuatku tertidur tanpa mengetahui siapa pemenangnya. Esok paginya, kubuka grup chat yang semalam terabaikan. Kubaca dengan perlahan satu persatu chat dari kedua temanku. Berkali-kali kukedipkan kedua mataku dan mencoba mencerna kembali kalimat yang mereka tuliskan. Ditambah dengan foto yang mereka kirimkan, rasanya aku semakin tidak percaya. Foto yang terlihat yaitu kedua temanku berfoto dengan membawa piala. 

Ketika ku pertajam foto tersebut, terlihat tulisan “Juara 1 LKPM ARTMOSFAIR”. Sungguh rasanya benar-benar tidak percaya. Maa syaa Allaah.. Satu kesan yang benar-benar melekat di hatiku, rasanya aku ingin dapat mengikuti semua lomba menulis yang diadakan agar aku dapat mendapatkan kesempatan lagi untuk merasakan bahagianya menjadi juara.

“Nama saya Intan Dwi Ambalika Indah Cahyaningtyas mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Maulana Maliki Ibrahim Malang. Bagi saya, menulis merupakan suatu kesenangan tersendiri karena dengan menulis, saya dapat mengutarakan isi dari pikiran saya dan tak jarang orang-orang termotivasi karena tulisan yang saya buat. Walaupun tulisan saya seringnya masih hanya terdokumentasi sebagai kutipan-kutipan kecil di Instagram, hehe.. Namun saya memiliki impian bahwa suatu saat nanti saya dapat menjadi penulis buku yang dapat memotivasi banyak orang dan apa yang saya tulis menjadi ladang pahala saya ^^”

Oleh: Intan Dwi Ambalika Indah Cahyaningtyas


Berkat Lomba Menulis, Aku Dapat Merasakan Bahagianya Menjadi Juara Berkat Lomba Menulis, Aku Dapat Merasakan Bahagianya Menjadi Juara Reviewed by Pena Juara on May 31, 2020 Rating: 5

No comments


Image Link [https://1.bp.blogspot.com/-tQY9J_6x1G0/XtPfL8xajjI/AAAAAAAAAF4/8_PRPMvvniYMZxUj7vWIxYzIfiY4iXsHQCLcBGAsYHQ/s1600/POST%2BYUHUY-23-min.png] Author Name [PenaJuara] Author Description [Read. Think. Write.] Facebook Username [soratemplates] Twitter Username [soratemplates] GPlus Username [104219125408123734587] Pinterest Username [soratemplates] Instagram Username [penajuaracom]