Dari Sebuah Mimpi Aku Hidup

“Aku tak punya bakat menulis, mustahil akhirnya aku bisa menulis.”

Aku menatap Ela, sahabatku dengan sinis. Aku tidak suka berdebat, apalagi yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupanku. Siapa aku, aku yang tidak punya bakat untuk menulis. Beda dengan Ela sahabatku, sejak SMP, bukan hanya tulisan huruf saja yang bagus. Bahkan gaya bahasanya saat menulis tanpa melihat, sangat indah bila dibaca. Dia berbakat.

Yah... sepertinya mimpiku hanya akan mati tanpa terjadi. Bermimpi menjadi penulis itu mustahil. Meskipun aku tiap hari banyak membaca, membaca tulisan dari penulis-penulis yang terkenal. Karena aku tahu, membaca adalah kunci utama seorang untuk memulai menulis.

***

“Farah, ada lomba menulis.” 
Kaila sahabatku tak berhenti memotivasi aku, tapi aku selalu saja acuh tak acuh. Aku harus membuang mimpiku jauh, karena aku tahu aku takkan pernah mampu untuk menggapainya. Mengalahkan Ela saja tidak pernah bisa, apalagi ikut lomba dengan ratusan peserta.

Lihatlah, Ela. Ela mendapatkan juara lomba di salah satu majalah. Ingin sekali hati ini, jika saja dia bisa, kenapa aku tidak! Yah... aku, aku adalah Farah Malikhah, harus punya niatan kuat untuk berubah. Karena aku yakin, bakat pasti terkalahkan dengan niat, semangat dan tekad dari seseorang yang tak kenal lelah untuk berusaha terus maju tanpa mundur sedikit pun.

Dan karena mimpi yang aku bangun itu kini semakin kuat, maka aku memutuskan untuk lebih berusaha keras. Tipa hari aku membaca dari beberapa karya penulis terkenal, tak bosan membaca karya Kang Abik yang kini menjadi penulis yang paling aku idolakan. Aku yakin, karena usaha yang keras pasti akan ada hasil setelahnya. Aku tidak ingin orang-orang menganggap aku pecundang, pecundang yang mundur sebelum berperang. Aku harus bisa...
Tepat pada tahun 2012 aku memutuskan untuk memulai menulis, tiap hari aku berusaha untuk lebih baik lagi. Dan tahun berganti tahun, akhirnya...


***

Benar apa yang Allah katakan, Allah takkan pernah merubah suatu kaum. Hingga mereka berusaha lebih keras untuk berubah. Dan Allah akan senantiasa menjawab dari do’a-do’aku. Apakah kalian tahu, aku kini menjadi juara. Jika tulisanku yang lalu amatlah buruk bahkan tak enak dibaca. Kini aku mampu melewati semuanya. Aku dengan keberanianku mengikuti lomba di majalah kampusku. Alhamdulillah... aku menjadi nomor satu. Dari situlah aku mulai berani, dan mampu menghasilkan karya.

Kini dari mimpiku aku hidup. Aku merasa lebih hidup. Bukankah impian harus kita kejar sejauh apapun itu. Karena tanpa kita mencoba kita tidak akan tahu kemampuan kita. Alhamdulillah, berkat lomba menulis kini aku menjadi nyata. Nyata bahagia. 

Ingatlah kawan, jika aku saja bisa. Kenapa kalian tidak! Tunjukkan karyamu, jangan takut. 



Lamongan, 30 Juli 2018


Kholifatur Rosyidah Lahir di Lamongan. 

Karyanya yang pernah menjadi jawara; Kurebut Pertiwiku (2004), Jiwa Persahabatan (2006), Terimakasih Cinta (2009), Ana Uhibbuka (2009), Syahadat di Malam Ramadhan (2010). 
Jika aku saja bisa tanpa ada kata ‘bakat’. Kenapa kalian tidak bisa, meski tidak berbakat!

Dari Sebuah Mimpi Aku Hidup Dari Sebuah Mimpi Aku Hidup Reviewed by Pena Juara on May 21, 2020 Rating: 5

No comments


Image Link [https://1.bp.blogspot.com/-tQY9J_6x1G0/XtPfL8xajjI/AAAAAAAAAF4/8_PRPMvvniYMZxUj7vWIxYzIfiY4iXsHQCLcBGAsYHQ/s1600/POST%2BYUHUY-23-min.png] Author Name [PenaJuara] Author Description [Read. Think. Write.] Facebook Username [soratemplates] Twitter Username [soratemplates] GPlus Username [104219125408123734587] Pinterest Username [soratemplates] Instagram Username [penajuaracom]