Jatuh Bangun Menulis Itu Bahagia

Selalu gagal dalam lomba menulis? Bahkan untuk sampai ke final pun belum pernah?

Perkenalkan saya adalah orang yang gagal dalam menulis. Bagaimana rasanya bila ada yang memperkenalkan diri seperti itu?

Itulah saya.

Pertama kali ikut lomba menulis yaitu pas sekolah dasar dimana saya terpilih untuk mewakili sekolah tingkat kabupaten dalam membaca cerita, menulis cerita emudian menceritakannya kembali. Saat itu pula saya merasakan kekalahan pertama dalam menulis. Seakan keajaiban belum berpihak, ataupun dewi fortuna belum berada dalam diri saya, saya pun melanjutkan kekalahan demi kekalahan hingga merasakan bahwa tidak ada bakat dalam diri untuk menulis.

Perubahan pun terjadi, secara mengejutkan, bagai roda berputar ketika saya kuliah saya kembali dipertemukan dengan dunia kepenulisan dan orang-orang yang punya  satu misi dalam kepenulisan. Dan WOW dunia kepenulisan bukan hanya tentang menulis tapi tentang menjadi tuan bagi cerita kita.


“berkarya dengan baik, berbuat baik dengan karya”. Adalah sebuah jawaban. Sebuah komunitas dimana berkarya adalah sebuah rutinitas. Kesibukan adalah karya dan karya adalah hal yang harus membuat kita bahagia.

Tentunya jelas. Ketika saya jatuh bangun dalam lomba menulis belasan kali tanpa sekalipun menyentuh namanya juara. Akhirnya disini saya sadar, akan menulis bukan bertujuan demi sebuah penghargaan. Namun, lebih kepada bagaimana kita bertanggung jawab kepada karya kita.

Akhirnya aku menyadari banyak hal dari kegagalanku bahwa dalam menulis bukan hanya kita sendiri, namun membutuhkan  kawan yang selaras dan butuh guru untuk membingbing kita. Ternyata tak sekedar ide namun kreatifitas dan teknis adalah sebuah benang merah yang saling keterikatan.

Dalam perlombaan jangan terlalu berharap! Setiap kesempatan tidak selalu seperti yang kita inginkan. Namun akhirnya selalu ada jawaban bahwa itulah yang kita butuhkan. Kita bakal mengganggap dunia tidak adil kepada kita. Kita sudah berusaha mati-matian untuk lomba ini namun masih belum juara. Hei! Emang yang lain tidak berjuang? Makanya inilah yang harus kita tanamkan, jangan terlalu berharap.

Ketika mencoba berlomba kembali, ingat jangan takut untuk gagal! Jadikan gagal hilang dalam kamus kita. Ganti dengan “coba kembali”. Ketika kita belum berhasil tandanya coba kembali, terus saja hingga akhirnya kalian juga akan menemukan diri kalian pada karya kalian. Menyenangkan bukan? 

Hingga akhirnya ada sedikit saran dari keterkejutanku pada hal ini. Bahwa ternyata dunia ini banyak orang yang baik. Banyak orang yang semisi dengan kita. Mari kita keluar, jalin komunikasi kita, eratan tangan kita . hingga akhirnya kita bisa “Berkarya dengan baik, berbuat baik dengan karya”.

Terima kasih jangan lupa bahagia walaupun kita harus jatuh berkali-kali kawan. Terus semangat kawan. Tetap selalu berdoa, rendahkan diri karena tuhan telah menuliskan takdir kita. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil kok.

Oleh Azis Maulana Iskandar
Saya lahir di kota angin atau disebut juga kota gedong ginju (Kota Majalengka). Saya mulai dikenalkan dunia kepenulisan dari mulai sekolah dasar namun belum bisa memahaminya, hingga akhirnya mengikuti komunitas dan banyak belajar lewat buku dan guru. alhamdulilah sekarang sekarang sudah kuliah masih tetap  suka menulis dan menjadi pencerita.

Jatuh Bangun Menulis Itu Bahagia Jatuh Bangun Menulis Itu Bahagia Reviewed by Pena Juara on May 31, 2020 Rating: 5

No comments


Image Link [https://1.bp.blogspot.com/-tQY9J_6x1G0/XtPfL8xajjI/AAAAAAAAAF4/8_PRPMvvniYMZxUj7vWIxYzIfiY4iXsHQCLcBGAsYHQ/s1600/POST%2BYUHUY-23-min.png] Author Name [PenaJuara] Author Description [Read. Think. Write.] Facebook Username [soratemplates] Twitter Username [soratemplates] GPlus Username [104219125408123734587] Pinterest Username [soratemplates] Instagram Username [penajuaracom]