Kemenangan Pertama pada Lomba Pertama

Aku ingin membagi ceritaku dengan saat pengalam pertama menjadi pemenang lomba menulis sekaligus menjadi kemnangan pertamku dalam lomba menulis. Jika aku mengingat peristiwa itu rasanya hal itu tak mungkin terjadi pada diriku yang bisa dibilang waktu itu pemula dalam lomba menulis. Tak ada niatku untku untuk menang tapi saat itu niatku adalah bagaimana memulai berkarya dalam lomba menulis. Namun erkat hasil kesungguhanku dan niat yang tulus serta doa, aku memenangkan lomba tersebut. harga diriku yang terlukai karena tidak ada prestasi kembali bangkit dan membuatku bangun untuk terus menulis. Disana aku mendapat pengakuan dalam kemampuan menulisku.

Kalau tidak salah lomba itu diselenggarakan pada bulan November 2017. Akupun mendapat informasi dari temanku bahwasanya ada lomba menulis esai dalam rangka HPN (Hari Pers Nasional) 2018.seperti yang kita ketahui peringatan HPN selalu menukar tuan rumahnya setiap tahun. Dan kebetulan untuk tahun 2018 HPN di peringati di Kota Padang. Aku masih ungat betul lomba itu diadakan oleh Museum Adityawaraman yang bekerja sama dengan HPN dalam lomba tersebut. hadiahnya tidak main-main. Uang tunai yang bisa aku katakan besar. Cita-citaku untuk membeli kamera dengan uang sendiri langsung terbayang saat aku mengetahui lomba tersebut. benar, uangnya nanti untuk beli kamera.

Aku masih ingat betul temanya ada dua yaitu tokoh pers minang dan media cetak di minang. Temanku yang mengusulkan lomba itu juga ikut menulis, jadilah kami bersaing pada saat itu. Aku memilih tema tokoh sejarah ers dan dia memilih tema media cetak. Jujur saja aku menunda dalam menulis sampai mepet deadline. Dan aku masih sangat ingat dalam menuliskan essai tersebut aku membutuhkan satu hari penuh, mulai dari menriset tokoh yang aku angkat dan menuliskannya. 

Hal yang menakjubkan adalah, ide ceritaku ini muncul saat aku dalam perkuliahan. Aku masih ingat dosenku membahas peran wanita didunia politik. Lalu dia tiba-tiba dia membahas wartawan perempuan pertama. Aku baru ingat ada sosok Rohana Koedus yang lahir ditanah minang dan menjadi pencetus pertama surat kabar wanita dimana tidak hanya konten suratkabarnya tetapi juga petinggi serta wartawan dalam surat kabar tersebut. aku mendapat ide lumayan jauh dari waktu deadline. Namun kesalahanku adalah, tidak langsung membuat konsep yang seketika ingat waktu itu. Aku menunggu sampai akhirnya aku kewalahan dalam waktu singkat dalam menriset dan menuliskannya.

Ket: Foto setelah pengumuman Lomba, lokasi di Museum Adityawarman

Aku masih ingat aku memulai menulis pada jam 9 pagi dan berakhir pada 18.30. alhasil aku menuliskan sepanjang 10 halaman tentang Rohana Koedus dengan hasil riset sana-sini. Kali itu aku merasa menulis banar-benar tidak berdasarkan khayalandan hasil riset yang sungguh-sungguh. Sensasinya berbeda saat aku menulis cerita fiksi. Aku harus menggabungkan potongan informasi demi informasi agar hasilnya akurat. Dan aku sangat berhati-hati dalam memilih sumber saat itu.

Lalu seperti yang dijanjikan, pengumuman pemenang pada tanggal 29 November. Seharian aku terus-terusan mencek email, berharap kabar baik masuk. Begitu juga dengan temanku yang sama-sama berjuang. Sampai malam datang dan aku tutup hari itu dengan rasa kecewa karena email tidak kunjung masuk. Keesokan pada jam 7 pagi, tepat saat aku bangun tidur, entah kenapa diluar kebiasaan aku mencek hp dalam keadaan mata beum sepenuhnya terbuka lalu membuka email. Tak pernah sekalipun pagi hari aku membuka email. Akupun sudah legowo dengan kekalahan lomba itu. Tetapi email yang aku dapat adalah, “selamat kamu memenagkan juara omba menulis essai.” Mata yang awalnya masih sulit dibuka, sekarang aku sudah berdiri terbelalak melihat email tersebut. pagi berkah yang sangat luar biasa. Benar-benar sulit dipercaya karena bagiku itu pertama kali tetapi langsung menang.

Aku berhati-hati agar aku tidak terkecoh dengan email tersbut. Sempat aku berpikir semua peserta diharapkan hadir di lokasi pengumuman maka dari itu mereka mengirim email ke semua peserta. Maka dari itu aku tanyakan pada temanku yang juga jadi pesaing, namun nyatanya dia tidak dapat. Aku menyesal menanyakannya, untunglah dia ikut senang karena kemenanganku. Bahkan dia menawarkan diri untuk menemaniku hadir di lokasi pegumuman.

Itulah yang menjadi titk pengakuan bahwasanya aku mampu menuis. Disanalah aku bisa mengembangkan diriku. Bahkan aku berhasil membuktikan pada keluargaku aku bukanlah anak kecil yang tidak bisa apa-apa. Hal itu juga menjadi pembuktian bagi orang tuaku bahwa anaknya memiliki prestasi. Yah itu pengalaman yang menakjubkan yang mendorongku untuk terus menulis dan lomba.

Namun sangat disayangkan lomba sehebat itu tak ada sertifikatnya. Pihak panitia memang tidak menyediakan sertifikat. Aku cukup kecewa, karena bagi mahasiswa sebuah sertifikat sangat berharga untuk bukti prestasi. Yasudahlah, tak ada yang mulus didunia ini. aku tetap mensyukurinya karena tidak semua orang mendaat kesempatan seperti itu.

Aku merasa kalah bukan karena aku tidak memenagkan suatu lomba menulis tetapi karena aku gagal mengirimkan karyaku pada lomba menulis. Artinya aku sudah menyerah tanpa mencoba. Saat kita tidak mencoba kita memiliki peluang untuk menang walaupun kecil. Kita takkan tau gagal atau tidak jika tidak mencoba. Salahkan dirimu jika kamu sudah menyerah sebelum mengirimkan karya.
Jika kekalahan selalu datang disaat kita sudah mencoba yang terbaik, jangan cepat membeci dirimu dan trouma untuk ikut lomba menulis. Aku pernah mengalaminya. Setelah kemenangan pertama itu aku sering ikut lomba menulis tetapi hasilnya banyak gagal. Yang aku lakukan adalah meminta teman-temanku untuk membaca tulisanku. Disana kamu bisa melihat penilaian dari sudut pandang orang lain. Sesuatu itu juga baik kalau dipandang oleh orang luar, itu yang pernah aku dengar. Tetnyata memang iya, ada hal-hal yang kurang dalam tulisanku sebelumnya. 

Kalah bukan berarti salah. Yang salah adalah ketika kesombonganmu dalam menulis menguasai pikiranmu. Menang lomba untuk pertmama kali sempat membuatku sombong, namun akhirnya aku sadar, tak selalu tulisan itu akan menang. Semua persaingan yang ada akan berbeda-beda setiap lomba. Coba lagi dan lagi adalah saran yang bisa aku berikan bagi pejuang-pejuang lomba menulis. Dengan catatan selalu ada evaluasi disetiap tulisan tersebut. jikalau kita melakukan kesalah yang sama semuanya sia-sia. Usaha tak pernah menghianati hasil, dan rendahkan sedikit egomu untuk mengetahui kesalahanmu.

Oleh: Nurul Fatma

Namaku Nurul Fatma, mahasiswa Ilmu Komunikasi. Aku memilih bidang menulis untuk megaktualisasikan diriku. Semoga suatu saat aku mampu menjadi penulis terkenal seperti panutanku yaitu Andrea Hirata.

Kemenangan Pertama pada Lomba Pertama Kemenangan Pertama pada Lomba Pertama Reviewed by Pena Juara on May 31, 2020 Rating: 5

No comments


Image Link [https://1.bp.blogspot.com/-tQY9J_6x1G0/XtPfL8xajjI/AAAAAAAAAF4/8_PRPMvvniYMZxUj7vWIxYzIfiY4iXsHQCLcBGAsYHQ/s1600/POST%2BYUHUY-23-min.png] Author Name [PenaJuara] Author Description [Read. Think. Write.] Facebook Username [soratemplates] Twitter Username [soratemplates] GPlus Username [104219125408123734587] Pinterest Username [soratemplates] Instagram Username [penajuaracom]