Kesatria Sastra

Pada umur kurang dari 10 tahun, kakak perempuanku pernah membawa pulang sebuah piala. Itu adalah piala pertama di keluarga kami. Sejak kecil aku juga sering diam-diam membaca catatan harian kakakku, di dalam catatan harian itu aku sering membaca puisi-puisi karyanya. Selain itu, aku juga senang mambaca cerpen dan cerbung di majalah-majalah ternama waktu itu. Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai menyukai tulisan sastra. Namun, sejak kelas tiga SD aku sudah mulai menulis puisi. 

Aku terus menulis hingga SMA meski tidak pernah ikut serta dalam lomba. Sebab, aku juga tidak pernah berpikir ke arah sana, aku hanya menulis karena aku suka dan itu terlihat keren di depan gadis-gadis sebayaku. Memang pernah sih, beberapa kali ikut seleksi lomba tapi kalah. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti menulis.

C:\Users\Cindy Priscilia\Pictures\20180430_222851_0001.png
Seperti dilema yang di hadapi hampir semua siswa SMA di kelas tiga menjelang kelulusan. Aku tidak tahu ingin mengambil konsentrasi kuliah di bidang apa dan dimana. Ayahku mendesakku untuk jadi polisi. Ibuku menginginkan aku jadi dokter. Sekonyong-konyong, aku merasa bahwa aku adalah manusia merdeka dan hidupku adalah milikku. Di dasarkan pada kesukaanku pada segala hal yang menyangkut kebahasaan dan jiwa nasionalisme yang tinggi (ini beneran lo ya), aku berakhir menjadi mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia atau lebih sering di sebut guru bahasa Indonesia. Di sinilah semua perjuanganku dalam dunia kepenulisan sastra di mulai.

Di tahun-tahun awal perkuliahan aku cukup terkejut dengan materi kuliah yang di sajikan. Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan tiga buah “C” di semester pertamaku. Aku rasa cukup sampai di sini saja curahan hati seorang pemuda galau kala itu.

Mari, aku akan menceritakan awal mula aku mengikuti lomba menulis. Pada tahun 2014, keluarga kami tertimpa musibah yang sangat luar biasa. Aku bahkan hendak berhenti kuliah rasanya. Saat itu ada satu kesadaran yang muncul seperti sebuah ilham dari langit. Sebaris mantra yang aku pegang teguh sampai sekarang, yaitu  ‘Sekarang adalah waktu bagi dunia mengatakan bahwa mereka adalah orang tua dari Ali (itu namaku). Bukan Ali adalah anak dari &*$%@#$ (Nama orang tuaku yang aku rahasiakan hehehe)’. Ya, kurang lebih demikian. 

Tidak lama setelah itu, aku melihat sebuah poster lomba di dinding kampus. Di poster milik Himpunan Mahasiswa Matematika itu ada lomba menulis cerpen dan puisi, aku berpikir untuk iseng-iseng berhadiah ikut lomba itu. Meskipun syarat dan ketentuan lomba harus berkaitan dengan dunia matematika.

Dengan membara aku ikut serta dalam dua mata lomba sekaligus, cerpen dan puisi. Aku tidak terlalu berharap akan menang, setelah mengirimkan naskah, aku seperti tidak peduli lagi hasilnya. Bahkan tanggal pengumuman pun aku tidak tahu. Beberapa hari setelah itu, sebuah pesan singkat masuk dengan pemberitahuan yang membuat aku senang bukan kepalang. Puisiku juara dua dan cerpenku harapan satu. Ada kebahagian yang rasanya luar biasa sekali. Aku membawa pulang piala pertamaku.

Setelah kemenangan itu, aku terus mengikuti berbagai lomba menulis sastra, terutama cerpen dan puisi. Hingga hari ini, aku telah mengumpulkan 10 piala di rumahku dan lebih dari 20 sertifikat pemenang lomba dengan berbagai variasi angka kemenangan serta tingkatan lomba. Dari tingkat kampus hingga tingkat nasional. Aku juga telah memiliki tiga buku antologi bersama. Ya, karena tidak semua lomba ada pialanya, ada juga yang sertifikatnya tidak sampai kepadaku. Seperti beberapa lomba menulis online yang pernah aku ikuti.

Di balik kemenangan yang aku raih itu, aku juga telah kalah dan gagal di banyak perlombaan. Mungkin tiga sampai empat kali lipat dari kemenangan yang aku dapat. Bayangkan saja. Aku telah mengikuti lebih dari 100 perlombaan dalam empat tahun terakhir. Mengirimkan naskahku ke berbagai surat kabar dan tidak kunjung dapat jawaban hingga detik ini.

Aku pernah bangga pada piala-piala yang berjejer rapi itu, pada namaku yang tertera di sertifikat-sertifikat itu. Namun, hanya segelintir orang yang tahu tulisan-tulisanku. Aku ingin lebih dari ini. Itu berarti aku harus membuang kebanggaan itu, bagiku kebanggaan adalah kata lain dari puas diri. Akhir-akhir ini aku telah berniat untuk istikomah (doakan ya,) menulis novel. Bagiku, piala-piala dan sertifikat-sertifikat itu hanya omong kosong jika aku tidak mempunyai sebuah karya tunggal. 

Semua sakit, kecewa, ingin berhenti, putus asa, serta pikiran yang muncul bahwa aku bukanlah seorang penulis sastra yang berbakat atau tulisanku tidak berbobot. Selalu muncul di setiap kali aku gagal dan kalah dalam perlombaan. Tapi, aku selalu bisa mengatasinya. Aku membaca lebih banyak, mengikuti perlombaan lebih banyak, menonton film lebih banyak, agar aku bisa mendapatkan lebih banyak juga. Sekarang aku adalah seorang pengangguran. Entah mengapa aku masih ingin di dunia ini (dunia menulis sastra). Meskipun hanya kurang dari 10% para penulis yang hidup dari tulisan-tulisannya. Tapi aku tetap ingin menjadi penulis. Aku ingin abadi dalam karya-karyaku.

Beberapa orang terdekatku pernah berkata bahwa hidup tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kadang-kadang kita harus merelakan mimpi-mimpi kita untuk bisa bertahan hidup di dunia kehidupan yang keras ini. Hidup dalam dunia statis dimana kita harus bangun pagi, mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja di bawah perintah si Bos yang seringkali berganti-ganti setiap tahunnya.

Berkali-kali pula kita harus berganti muka agar di sukai dan bisa dapat tambahan gaji. 

Aku ingin hidup dan menggambarkan kehidupan yang ada di sekitarku. Menyampaikannya kepada semua orang di dunia melalui tulisan-tulisanku. Berbagi kebaikan-kebaikan serta pembelajaran hidup dalam cerita yang aku buat. Aku ingin menciptakan sebuah dunia dimana disana orang-orang menemukan apa yang mereka cari. Sebuah dunia realitas-sains-fiksi yang menembus dimensi kebiasaan. Aku ingin menciptakan tokoh-tokoh yang menginspirasi meski dia separuh nyata di muka bumi. Oleh sebab itu, aku akan terus menulis, meski aku juga harus berbagi idealisme dengan dunia yang keras ini. Aku akan menulis hingga tulisan-tulisanku di akui di dunia ini. Di bawah langit lazuardi, aku akan terus berjuang dan bertarung. Sebab aku adalah kesatria di dunia sastra.

Oleh Muhammad Ali Zulfikar
Aku seorang lelaki yang di lahirkan 24 tahun lalu di hari ketujuh di  awal tahun 1994. Lahir dan besar di sebuah kota yang banyak orang Indonesia tidak tahu terletak di pulau apa, yaitu kota di Bengkulu. Aku menulis dengan nama pena Maz Li.              

Kesatria Sastra Kesatria Sastra Reviewed by Pena Juara on May 31, 2020 Rating: 5

No comments


Image Link [https://1.bp.blogspot.com/-tQY9J_6x1G0/XtPfL8xajjI/AAAAAAAAAF4/8_PRPMvvniYMZxUj7vWIxYzIfiY4iXsHQCLcBGAsYHQ/s1600/POST%2BYUHUY-23-min.png] Author Name [PenaJuara] Author Description [Read. Think. Write.] Facebook Username [soratemplates] Twitter Username [soratemplates] GPlus Username [104219125408123734587] Pinterest Username [soratemplates] Instagram Username [penajuaracom]