Menulis Memenangkanku

Semenjak aku duduk di bangku SD sampai SMA, tidak ada satupun prestasi yang aku  peroleh yang bisa aku banggakan pada orang lain terutama kepada orang tuaku. Harga diri aku semakin terlukai saat aku mengikuti wawancara beasiswa dimana orang yang mendaftarkan diri sebanyak 3000 dan yang akan lolos hanya 300 orang. Pertanyaan yang sering muncul di sesi wawancara beasiswa adalah, apa saja prestasi yang telah kamu dapat? Aku terdiam tak bisa menjawab. Bangku sekolah yang aku lewati selama itu terasa sia-sia. Hal itu lah yang memotivasi diriku untuk mulai meraih prestasi dengan mengikuti berbagai macam lomba demi harga diriku, orang tua, dan kebanggaan. Jika ini terdengar serakah, sebenarnya tidak karena hal ini pun menjadi kebutuhan tertinggi manusia yaitu aktualisasi diri menurut Abraham Maslow.

Ketika motivasi itu sudah bersemayam di benakku, aku mulai mencari-cari lomba yang tepat yang mampu aku ikuti. Dahulu waktu SMA yang terpikirkan olehku lomba itu seperti olimpiade sains, lomba menari, lomba menyanyi, pertandingan olahraga dan segala macamnya. Tak pernah aku terpikir untuk mengikuti lomba menulis karena murid berprestasi di sekolah aku pun tak pernah terdengar dari lomba menulis. Semua cabang lomba yang sebutkan diatas tak satupun ingin ku dalami. Bahkan untuk lomba seperti bernyanyi, dan menari diperlukan bakat dan latihan. Masaah bakat bukan disana aku diberikan Tuhan. Namun aku punya sesuatu yang dapat terjadi pada semua orang tapi bisa menjadikannya spesial yaitu imajinasi dan khayalan. Aku yakin setiap orang yang waras dan tidak waras didunia ini pernah mengkhayal dengan kapasitas yang berbeda. Namun tidak semua orang bisa mengungkapkan khayalannya melalui karya, baik itu tulisan, lukisan dan bentuk karya lainnya. Aku memilih jalan menulis untuk mengungkapakan khayalan atau imajinasi yang aku punya. 

Sumber foto: National Geographic Indonesia

Saat aku SMA ada tugas-tugas bahasa Indonesia seperti cerpen aku mendapat apresiasi dari guru bahasaku dimana dia menampilkan cerpenku didepan kelas sehingga semua orang membacanya. Ternyata tidak dikelasku saja namun, temanku dari kelas lain juga mengetahui cerpenku. Hal kecil yang mungkin dianggap biasa oleh orang lain, bagiku apa yang dilakukan oleh guruku adalah hal yang membuat diriku percaya diri dengan menulis sampai sekarang.

Lomba menulis tak perlu bakat dari lahir, tak perlu memakan waktu latihan seperti menari, bernyanyi dan olahraga. Hanya duduk dan tuliskan imajinasimu, kamu bisa mejadi orang yang spesial. Namun perlu diingat, Tuhan tak ingin makhluknya manja dengan segala keinstanan, maka tak mungkin juga kita menulis tanpa skill seperti menari dan bernyanyi. Untuk itu, bagaimana kamu mentransfer imajinasi dengan kata-kata disetiap tulisanmu, kamu harus melatihnya dengan membaca dan mendengar. Karena semua bentuk verbal yang akan mengalir ditulisan didapat juga dari seberapa banyak verbal yang kamu baca dan kamu dengar. Lagian membaca dan mendengar bukan hal sulit dilakukan. Kamu tinggal duduk dan mengkonsentrasikan pikiranmu. Bagi orang-orang yang sibuk akan rutinitasnya tapi dia perlu aktualisasi diri, tulisan adalah hal tepat untuk dilakukan. Bagi kamu yang merasa dirinya tak berbakat dibidang apapun, cobalah menulis. Tulis mulai dari perasaan yang kamu miliki hari itu. Karena menulis bukan bakat dari lahir. Tak bisa kita lihat bakat menulis saat masih SD, kebanyakan bakat terlihat seperti bernyanyi, menari dan olahraga. Menulis bukan persoalan bakat. Dia adalah kemampuan yang kamu peroleh selama proses hidupmu. Sekarang tergantung individunya yang ingin memperdayakans skill tulisan tersebut.

Aku rasa, aku sudah menyinggung sedikit bagaimana kita memulai untuk menulis. Misalnya kita sudah memiliki motivasi untuk menulis, dan ingin memperdayakannya untuk mengikuti lomba. Pertanyaannya bagaimana kita harus memenagkan lomba itu. Sedikit tip yang bisa aku berikan.

1. Niatkan perlombaan untuk pengalaman bukan untuk memenagkan lomba.
Hal ini berlaku untuk pemula, dimana dia baru menulis dan baru pertama kali ikut lomba menulis. Bagiku niatkanlah perlombaan itu pengalaman. Jikalau menang kita harus sangat-sangat bersyukur, jikalau kalah, kita sudah memiliki pengalam luar biasa yang mengajarkan kita untuk menulis lebih baik lagi. Sekali lagi Tuhan tidak ingin memanjakan makhluknya dengan menginstankan segalanya. Dan jadikanlah hadiah yang ditawarkan untuk memaksamu menulis.

2. Selalu berlatih dengan membaca dan mendengar.
Kosa kata, susunan kalimat, gaya bahasa adalah senjata dalam soal menulis. Layaknya pisau, jikalau senjata itu tak diasah mana bisa kita mengalahkan lawan. Semakin banyak verbal yang kita peroleh, akan membantu kita dalam mengalirkan ide-ide pada bentuk tulisan. Namun banyak remaja sekarang malas membaca. Yang bisa saya sarankan, bacalah hal yang kamu sukai, tak masalah itu adalah sosial media, ataupun novel online dan lain-lain.

3. Munculkan ide yang menurutmu baru dan berbeda.
Harus aku akui ini sulit. Namun yang sering menjadikan ini lebih sulit adalah kita yang menunggu datangnya ide. Layaknya hidayah, mereka itu dicari bukan ditunggu. Lalu dimana kita dapat mencarinya. Jawabannya adalah mengobservasi lingkungan sekitarmu serta pengalaman melihat literasi seperti membaca cerita, video, film dan drama. Namun untuk hal literasi itu bukan bermaksud menjiplak tetapi hanya untuk memicu imajinasi kita. Aku beri contoh. Waktu itu aku membutuhkan ide menulis untuk cerpen, namun ide itu tak kunjung datang karena aku berprinsip dia akan datang sendiri. Ada benarnya namun hal itu disaat kamu sedang mengobservasi atau memikirkan hal kecil disekelilingmu. Aku duduk didalam angkot, melihat pengemis dan pengamen berseliweran meminta uang. Saat aku melihat anak-anak mengemis, imajinasiku terpicu dan mulai membuat cerita dari hasil observasi tersebut. setelah itu jadiah sebuah cerpen yang aku lombakan. Namun sayangnya aku tidak bisa memberitahu apakah memang atau tidak karena belum diumumkan.

3. Mulai menulis tanpa tunda-tunda.
Menulis bisa dilakukan saat waktu luang dengan syarat jangan pernah menunda. Karena Dosen Creative Writing saya pernah berkata “kalau kamu menunda untuk menulis sekarang dia akan tertunda sampai dua hari, lalu kamu menundanya lagi, akan tertunda saapai 4 hari. Begitu seterusnya sampai akhirnya kamu malas menulis dan ide yang ingin disampaikan hilang” 
Dimanapun berada jika tercetus ide, cobalah menuliskannya. Sebenarnya tak layak kita beralasan karena smartphone sudah digenggaman tangan, tinggal ketik dan simpan baik itu dinote atau aplikasi mengetik. Tuliskan saja kerangkanya, tak usah detailnya dulu. Setidaknya ada hal yang akan memicu ingatan ide kita saat kita akan mengembangkan tulisan.

4. Menulis ide sendiri bukan plagiat.
Haram hukumnya bagi penulis untuk plagiat. Lalu bagaimana jika tulisan yang ingin dibuat membutuhkan referansi lain? Buatlah kutipan sebagai bentuk menghargai sang penulis. Tidak usah memikirkan akan kalah jika ketahuan panitia tapi pikirkan jika berada di posisi orang yang diplagiat sedangkan karya kita itu adalah hal yang mahal, rasanya seperti kebahagiaan hidup kita juga dicuri. 

5. Riset.
Jangan meremehkankeuatan riset. Riset membuatulisan kita berbobot. Informasi yang akurat dan meyakinkan (diperoleh dari data-data) akan menambah nilai dalam tulisan kita. Jangan sampai kita bagus diide namun kita asal menyampaikan sesuatu, seperti ciki-ciki yang bungkusnya besar tapi isinya sedikit. Riset ini berlaku dalam karya fiksi apalagi nonfiksi. Pada nonfiksi tak usah ditanya lagi, namun pada karya fiksi, jangan sampai apa cerita yang diangkat abal-abalan, kecuali untuk genre fantasi yang memang seperti membuat dunia baru. 

6. Mempersiapkan mental.
Sebelumnya sudah aku singgung sedikit mengenai kemenangan. Persiapkan mental untuk mendengar antara dua kemungkinan, menang dan tidak mengang. Kalau menang kita patut bersyukur, dan menjadi motivasi untuk menulis lagi. jika kalah bersikaplah legowo dan dorong diri kita untuk menulis lebih baik lagi. saat kita tidak mempersiapkan mental itu, kekalahan bisa menjadi hal yang traumatis dan kita menjadi malas untuk mencoba. Setidaknya kita memiliki sedikit kemenangan bagi orang-orang yang tidak mencoba sama sekali. Dan yang lebih penting akan menjadi memotivasi kita dalam mengasah senjata tadi. Cara lainnya berdoa kepada Tuhan. Setidaknya berdoa dapat membuat tenang.

Oleh: Nurul Fatma

Namaku Nurul Fatma, mahasiswa Ilmu Komunikasi. Aku memilih bidang menulis untuk megaktualisasikan diriku. Semoga suatu saat aku mampu menjadi penulis terkenal seperti panutanku yaitu Andrea Hirata.


Menulis Memenangkanku Menulis Memenangkanku Reviewed by Pena Juara on May 31, 2020 Rating: 5

No comments


Image Link [https://1.bp.blogspot.com/-tQY9J_6x1G0/XtPfL8xajjI/AAAAAAAAAF4/8_PRPMvvniYMZxUj7vWIxYzIfiY4iXsHQCLcBGAsYHQ/s1600/POST%2BYUHUY-23-min.png] Author Name [PenaJuara] Author Description [Read. Think. Write.] Facebook Username [soratemplates] Twitter Username [soratemplates] GPlus Username [104219125408123734587] Pinterest Username [soratemplates] Instagram Username [penajuaracom]