Bersahabat dengan Emosi, Berbuah Pengalaman Penuh Arti

Emosi yang diluapkan membabi buta pada manusia, secara kasat mata, tidak bisa disebut baik. Sebagaimana emosi yang diendapkan di dasar hati, yang amat sulit diselami, tidak bisa membuat segala sesuatu menjadi baik pula. Emosi seyogyanya memang perlu diekspresikan. Namun, jangan sampai menjadi hal yang menyakitkan, bagimu maupun bagi orang yang ada disekitarmu. 

Sesungguhnya tiada pelampiasan emosi yang terbaik kecuali melalui sebuah tulisan. Kurang lebih itu yang aku rasakan.

Menulis mungkin sudah masuk dalam rentetan kegiatan yang sempat, sesaat, aku lupakan. Aktifitas yang hanya aku gunakan untuk mencatat materi kuliah maupun sebagai kegiatan penanda hal penting yang akan dan harus aku kerjakan ini, setidaknya kala itu, hanya memiliki peran sesederhana itu saja. Namun semuanya berubah sejak masalah demi masalah pengoyak hati datang silih berganti.


Katanya, saat seseorang terluka ia akan menjadi manusia yang paling puitis sedunia. Dahulu aku tidak percaya hal itu. Banyak yang berkata jika seseorang tersakiti maka sesungguhnya alam sedang menempanya menjadi sastrawan tangguh yang berusaha bangkit dari keterpurukan. Sekarang aku mulai memahami hal itu. Bahkan aku menjadi salah satu diantaranya.

Kata demi kata mulai terangkai rapih. Kalimat demi kalimat mulai menampakan bentuk aslinya. Puisi dan prosa mulai bercerita dengan lincah. Sebagai wujud penggambaran suasana hati yang sulit untuk diutarakan. Bermula dari kisah kesedihan mendalam, kekecewaan tanpa arah, kesakitan tiada akhir, hingga episode-episode kehidupan lainnya yang beraneka rupa, baik yang pernah aku alami atau yang sedang aku maupun manusia lain alami. 

Tulisanku adalah tumpahan emosiku. Tulisanku adalah ekspresi gelisahku. Tulisanku, pada mulanya, adalah konsumsi pribadiku. Hingga akhirnya aku beranikan diri untuk mempostingnya ke beberapa akun sosial media yang ku miliki. 

Aku tak bisa mengatur selera manusia, sebagaimana aku tak bisa menahan laju angin maupun menghentikan hujan yang tengah berjatuhan membasahi bumi. Ada yang menyukai dan ada pula yang tidak merespon dengan baik. Bersyukur, sejauh ini, tidak ada yang mencibir maupun mengejek karyaku. Setidaknya, hal itu cukup memberi motivasi pada jari jemariku untuk senantiasa berlenggak di atas keyboard laptop atau smartphone kesayanganku.

Suatu hari ada penerbit mengikuti salah satu akun media sosialku. Aku heran mengapa penerbit itu bisa mengikutiku. Aku mulai stalking postingan-postingannya lalu aku dapati ada lomba menulis yang sedang mereka selenggarakan. Temanya cukup menarik, lebih tepatnya sesuai dengan tema tulisan yang sering aku buat selama ini. Namun, kala itu, aku hanya menanggapinya dengan biasa saja.

Waktu berlalu, aku mulai memikirkan lomba tersebut. Rasanya bayang-bayang perlombaan itu senantiasa menari-nari difikiranku. Aku mulai menceritakan perasaanku ini dengan salah satu kawanku yang, menurutku, bisa menilai karya-karyaku. Aku yakin ia dapat memberiku padangan tentang lomba yang ingin aku ikuti. Responnya amat baik. Ia sangat mendukungku. Ia menyarankanku untuk mengikuti lomba tersebut. Mulailah aku membuat karya. Kemudian mengirim karya terbaik yang bisa aku buat. 

Aku tidak berharap mendapat juara. Aku hanya ingin menguji ketahanan karyaku jika ditarungkan dalam arena perlombaan. Ini kali pertama. Fikirku, setidaknya, kalaupun aku kalah, aku tidak dikalahkan oleh diriku sendiri. Oleh ketakutanku yang tidak berhak aku takuti. Kemenanganku adalah aku telah memiliki pengalaman pernah mengikuti perlombaan menulis. Perlombaan yang seumur hidup tak pernah terlintas sedikitpun akan aku ikuti. 

Diluar dugaan, karyaku menjadi satu diantara 50 karya terbaik dalam perlombaan tersebut. Karyaku mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu karya yang kemudian akan dibukukan. Bahagianya hatiku. Sejarah baru dalam hidupku telah terukir. Sungguh, semangatku dalam menulis semakin terpacu. Lomba berikutnya akan ku kerahkan segala daya dan upaya secara maksimal. Agar aku bisa menjadi juara dalam lomba kepenulisan. 

Kini, bagiku, menulis telah berubah haluan dari sekedar ekspresi kesedihan menjadi aktifitas yang amat menyenangkan. Kepercayaan diri mulai bertambah sejak kemenanganku saat itu, kemenangan dalam mengalahkan diriku sendiri. Keyakinan untuk dapat memperoleh gelar juara semakin mengokoh kala semakin banyak peluang perlombaan lainnya yang aku temui. Sekarang lomba menulis, bagiku, bukan hanya sebatas arena pelombaan semata, lebih jauh, sebagai cara untuk memperkenalkan karya-karyaku pada dunia. Sungguh, jika kau tidak mengenal aktifitas ini kusarankan untuk segera berkenalan dan bersahabat baik dengannya. Setidaknya untuk mengurai emosimu yang tidak dapat kau lerai. 

Betelgeuse, begitulah caraku bersahabat dengan emosi yang berakhir pada pengalaman yang menjadikanku berarti.

Oleh Nurlatifah Kafilah
Nurlatifah Kafilah lahir di Bandung pada tanggal 1 Maret 1995. Wanita tangguh yang suka traveling ini begitu mencintai Astronomi sehingga, saat menempuh study di Jurusan Fisika Universitas Negeri Malang, ia mengambil konsentrasi Astrofisika. Saat ini, ia berprofesi sebagai guru Astronomi di MAS/Mu’allimin Manba’ul Huda dan Tim Pengurus komunitas Astronom Persis.

Bersahabat dengan Emosi, Berbuah Pengalaman Penuh Arti Bersahabat dengan Emosi, Berbuah Pengalaman Penuh Arti Reviewed by Pena Juara on June 02, 2020 Rating: 5

No comments


Image Link [https://1.bp.blogspot.com/-tQY9J_6x1G0/XtPfL8xajjI/AAAAAAAAAF4/8_PRPMvvniYMZxUj7vWIxYzIfiY4iXsHQCLcBGAsYHQ/s1600/POST%2BYUHUY-23-min.png] Author Name [PenaJuara] Author Description [Read. Think. Write.] Facebook Username [soratemplates] Twitter Username [soratemplates] GPlus Username [104219125408123734587] Pinterest Username [soratemplates] Instagram Username [penajuaracom]