Dalam Proses, Si Cuka dan Madu Berbalut Goresan Pena

Sedikit berbagi kisah sejenak dalam rajutan tulisan sepenuh hati milikku kali ini. Sejak awal kehidupan manusia, kita, baik aku maupun kamu tentunya tidak pernah lepas dalam kaitannya dengan tulisan. Zaman dahulu, nenek moyang menceritakan kehidupan mereka melalui gambar diatas daun lontar. Dimasa inilah kegiatan menulis berkembang pesat. Menulis bukan merupakan kegiatan yang disukai oleh banyak orang di era digital yang serba canggih ini. Bagi sebagian besar orang, menulis merupakan kegiatan yang selayaknya dibenci dan dimusuhi habis-habisan. Membuang waktu saja katanya. Namun, bagi segelintir orang si pecinta cuka dan madu diatas goresan pena hal ini menjadi pengecualian. Bahkan,menulis bagaikan jiwa baginya dan aku termasuk orang yang berada di dalam komunitas kecil itu.

Menurut Wikipedia.org menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Beberapa orang menulis dengan atau tanpa tujuan. Ada yang menulis untuk meluruhkan isi hatinya, melegakan tangisannya, meredupkan sanubarinya yang kosong melompong di sela-sela warna abu-abu. Disisi lain, ada pula manusia yang memilih coretan diatas kertas ini sebagai ajang menafkahi hidup atau barangkali berjuang dalam sebuah kompetisi dengan tujuan mencapai kemenangan. 

Sumber: Dokumen Penulis

Memilih kegiatan menulis untuk mencapai sebuah kemenangan tentunya seolah menarik kita mengurai banyak rasa, tenaga, dan kosa kata. Dalam menulis pula, seorang penggores pena seharusnya pernah merasakan manis dan pahitnya proses menggerus diri demi membentuk rangkaian kata yang indah. Aktivitas ini memang tak sebatas rangkaian kata indah, ada pula yang tanpa nada, tanpa rasa dan hanya sekedar membentuk. Namun untuk membuat hal yang dinikmati para pembaca para penulis pasti merasakan getirnya jari yang menahan rasa lelah. 

Aku adalah salah satu diantara sekian banyak manusia yang hampir seratus persen gagal dalam meraih keberuntungan di bidang tulis menulis. Akan tetapi, selagi sastra menempati ruang tersendiri dalam kehidupan ini maka aku masih memiliki lilin harapan ditengah redupnya cahaya. Sebagai seorang remaja yang berusaha membiayai kehidupan seorang diri, aku mengambil tindakan menulis sebagai ajang mencari peruntungan dan kegiatan mencari jati diri. Sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku seringkali mengikuti lomba cerita pendek, menulis puisi, menulis resensi novel, hingga menulis novel.  Setiap kali ada pemberitahuan mengenai lomba tulis menulis, aku sangat antusias menanggapinya. Melihat keseriusan yang aku bentuk, sekolah juga ikut mendukung untuk mengirim aku untuk ikut berlomba di berbagai tempat.  


Dalam latihan menulis, seringkali aku harus meneteskan peluh dari dahi. Menulis cerita pendek menjadi salah satu contohnya. Sejak memilih mengikuti lomba, aku langsung memutar otak mencari bermacam ide konyol hingga abstrak yang pernah ada. Begitu dapat, alamak....bukan main senangnya aku. Halaman pertama, halaman kedua, halaman ketiga aku terus menulis dengan penuh semangat. Memasuki halaman keempat, bukan hanya pegal yang terasa. Terkadang pena aku harus berganti dari satu pena ke pena lain hingga terseok-seok menuju tinta habis kesekian kalinya. Dipertengahan cerita terkadang aku menghadapi stres saat kehabisan ide. Cerita yang mengalir dengan mudahnya kadang mentok di suatu sisi yang membungkam aku untuk mengalunkan kisah itu lebih lanjut. Berganti kertas sekalipun dan terus menulis menjadi kebiasaanku. Buruknya, sesudah aku merasa cerita itu mengalir tanpa pemikiran yang matang maka kertas itu akan aku singkirkan.

Rintangan dalam berjuang menulis tidak sesederhana itu. Seringkali banyak gangguan dari luar merasuk kedalam pikiranku dan mengobrak-abrik seluruh alur cerita. Baik guru-guru, teman terdekat, keluarga, bahkan diri sendiri. Aku tidak dapat menyalahkan diri ketika tubuh ini merasa lelah dan menahan kantuk untuk menyelesaikan tulisan yang ada maupun suasana yang tidak mendukung untuk menciptakan sebuah mahakarya yang sejuk dilihat pembaca. Ketika aku membaca ulang cerita yang aku bentuk dan tidak sesuai harapan, terkadang aku menangis. Merenungkan diri bagaimana cerita dapat kembali pada jalannya. Dalam menghadapi kondisi itu,aku memilih untuk tetap berpikir positif dan tenang.

Proses terus berlanjut menuju hari perlombaan dan pengumuman kejuaraan. Tidak hanya lomba offline, aku-pun mengikuti berbagai lomba online begitu ada kesempatan. Namun hasilnya seringkali mengecewakan hatiku.  Keputusasaan setelah sekian panjang proses menyusun kata menyeruak dalam dada ketika bukan nama milikku yang terpanggil. Waktu yang terbuang percuma, ide yang tidak ditanggapi, sampai pemikiran kalau karya aku tidak layak pernah hinggap begitu saja. Sesudah fase kekecewaan itu datang, aku berusaha menguatkan diri sendiri dan mulai merefleksikan diri. Apakah karyaku sudah pantas saat bersanding dengan karya teman-teman lainnya? Apakah tulisanku sudah konsisten dalam merangkai alurnya? Sepertinya belum. Itu jawaban yang terbentuk dalam pikiranku. Hingga seiring pendewasaan diri, aku semakin memperbaiki kondisi tulisanku agar semakin layak mendapat apresiasi.

Sampai saat ini, walau belum meraih juara apapun aku tetap percaya bahwa menulis mendatangkan kebaikan. Beralih ke beberapa cara, aku menulis beberapa kisah di blog mengenai curhatan hati dan membagikan beberapa kisah di akun media sosial yakni Instagram (khususnya snapgram) untuk memotivasi para pengikutku. Tak sedikit tanggapan dari mereka berhaluan positif dan membawa aku lebih semangat mengembangkan kualitas tulisanku lebih bagus lagi. Kekecewaan setelah gagal dalam perlombaan menguap begitu saja ketika respon positif itu bahu-membahu mengangkat aku semakin mencintai menulis. Jika awalnya pemikiran bahwa menulis untuk mencari nafkah masih menempel dalam pikiranku, kini hal itu tidak lagi. Menulis bagi aku adalah bagian dari jati diri yang belum pernah terkuak. Aku yakin dan percaya bahwa segala sesuatu yang diasah dengan penuh kepercayaan diri dan kerendahan hati akan berbuah manis. 

Maka dari itu, secara khusus tulisan ini dirajut untukmu sahabat PenaJuara mengingat bagaimana menulis mengubah pola pikirku. Menulis bukan sekedar kegiatan cuma-cuma yang tidak mendatangkan manfaat. Dengan menulis kau dan aku sama-sama belajar bagaimana luasnya pemikiran yang ada di dalam diri kita. Dengan menulis pula, kau dapat mencurahkan isi hatimu,mengembangkan bakat,memotivasi banyak orang, bahkan harapan yang kau pinta lewat selembar surat. Belum lagi kalau ternyata kamu memiliki bakat dan berpotensi memenangkan berbagai perlombaan, hadiah kejuaraan secara tidak langsung sudah berada dalam genggamanmu! Walaupun terlihat pahit dalam prosesnya,percayalah bahwa segala sesuatu indah pada waktu-Nya.

Oleh Kezia Grace Abraham
Sebagai penulis kecil di dalam catatan hati, aku Kezia Grace Abraham sebaiknya memperkenalkan diri sebagai perempuan yang lahir di kota Bogor pada 12 April 2001. Beralaskan sealamat e-mail keziagraceabraham@yahoo.co.id dan identitas instagram @keziabraham. Barangkali berkenan silahkan kunjungi aku dengan penuh cinta dan tentunya akan dibalaskan senyuman berlipat ganda dalam relung dada.

Dalam Proses, Si Cuka dan Madu Berbalut Goresan Pena Dalam Proses, Si Cuka dan Madu Berbalut Goresan Pena Reviewed by Pena Juara on June 02, 2020 Rating: 5

No comments


Image Link [https://1.bp.blogspot.com/-tQY9J_6x1G0/XtPfL8xajjI/AAAAAAAAAF4/8_PRPMvvniYMZxUj7vWIxYzIfiY4iXsHQCLcBGAsYHQ/s1600/POST%2BYUHUY-23-min.png] Author Name [PenaJuara] Author Description [Read. Think. Write.] Facebook Username [soratemplates] Twitter Username [soratemplates] GPlus Username [104219125408123734587] Pinterest Username [soratemplates] Instagram Username [penajuaracom]