Habis Melamun, Terbitlah tulisan

Semua insan yang masih bernafas pasti memiliki impian yang dicita. Mulai dari miskin, kaya, tua, maupun muda. Kecuali kalau kamu sudah bosan bernafas.

Ini sedikit kisah tentang seseorang yang selalu pupus harapan, padahal badai tidak pernah menerjang. Tentang cuplikan sakitnya terjatuh, walaupun lantainya tidak licin. Tentang impian yang hampa, meskipun sudah bangun dari tempat peraduan.

---
Seniman? Bukan. Artistik? Apalagi. Namun terkadang yang namanya hobi akan tetap menjadi hobi, walaupun tiada yang menjamin kualitas dari hobi tersebut. Kata sampingannya adalah having fun.
Membuat komik adalah hobi sejak kecil dahulu. Mulai dari meraih pensil ayah, dan berujung coretan neraka di dinding tembok rumah. Bahkan di setiap buku pelajaran dan buku tulis, mungkin sudah dijarah oleh tulisan-tulisan tak berdosa itu.

Kebiasaan ini turun temurun hingga adik-adikku. Entah burung berkepala manusia, atau robot berbadan binatang dengan sayap di segala sisinya. Inilah yang membuat titisan hobi baruku. Dan yang satu ini justru tidak menurun hingga adik-adikku.

Pernah sesekali komik ecek-ecekku dimuat di salah satu majalah sekolah edisi Ramadhan. Walaupun kurang bagus, setidaknya diriku telah berjuang.

Hingga beberapa bulan yang lalu, aku iseng mencari link tentang lomba komik. Setelah kudapat, segera semua ide kukerat. Memang susah konsistensi menulis untuk diikat, namun segalanya tentu saja butuh usaha dan doa yang kuat. Sayangnya sobat, karena butuh waktu yang lama dalam membuat, mengingat beberapa kesibukan yang menjadikan tak sempat, komik terkirim dalam kurun waktu sehari terlambat. Tetap ada sisi positif yang diingat: setidaknya sobat, aku tahu dimana letak kantor pos dengan tepat tanpa cacat tersesat.

Yang terpenting dari segala hal adalah pengalaman dan bagaimana kita mengambil pelajaran berharga dari buih-buih keringat kita. Pepatah Inggris mengatakan,
Experience is the best teacher.
Untuk beberapa saat, rasa takut untuk mencoba masih tetap ada, padahal lubuk hati yang terdalam mengatakan sebaliknya. Suatu hari, ada pengumuman bahwa akan diadakan Dema Olympiad, yaitu semacam acara lomba antar individu maupun fakultas di dalam universitas. Ada sebuah lomba yang sedikit menyentil minatku, yaitu lomba membuat cerpen.

Sederhana saja, aku membuat cerita singkat ketika sedang melamun, dan inspirasi itu datang menghampiri. Kutulis cerita yang sebenarnya adalah pengalamanku yang lama, tapi tentu saja itu hanya fiktif belaka. Kususun rapi seirama, langsung kucetak dan kusatukan dengan straples. Terbit sedikit rasa minder dikala mengumpulkan, karena di dalam kardus yang kulihat adalah cerita-cerita yang menarik dengan sampul sampai cover yang indah, ada yang sampai dijilid. Tak apalah, karena kalah menang itu biasa, yang penting kita punya pengalaman.

Malam pengumuman tiba, namun ada kesibukan di dalam bagian yang kupegang di sekolah. Siapa sangka, aku meraih juara 1 lomba cerpen. Walaupun hadiahnya tak seberapa, lihatlah efeknya. Tumbuh sedikit rasa percaya diri dalam mengmbangkan kreasi dan inovasi dalam merangkai sebuah cerita.

Lalu aku diikutkan mewakili sekolah untuk lomba cerpen di sebuah festival universitasku, dengan divisi daerah yang berbeda. tapi kehidupan bagai roda yang terus berputar, kadang di atas, bisa juga di bawah. Aku kurang beruntung hari itu. Apa aku sedih? Tidak. Karena aku harus lebih menyadari, kualitas orang lain hari itu boleh jadi lebih baik dari kita. Namun, siapa yang bisa meramal masa depan? Justru hal ini yang semakin menyulut api perbaikan di dalam diri untuk selalu memperbarui semangat dan jati diri.

E:\LPJ OPPM\IMG_0182 (2).JPG

Aku mendapat pelajaran berharga dalam inovasi menulis. Kita harus memikirkan masak-masak cerita tema apa yang kita pilih. Tak perlu muluk-muluk tentang kisah asmara si pangeran kaya, maupun rumah mewah dengan segenap kesempurnaan. Tiliklah sedikit kehidupan sekitar dan fenomena yang sedang terkenal, lalu dirangkai satu sama lain dalam sebuah cerita.

Jangan lupakan nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya, mana tahu ada yang mendapat pelajaran berharga darinya. Justru jika yang kita masukkan adalah hal-hal yang tidak mendidik, kita akan mendapat dosa dari orang yang telah membaca. Sebagai contoh, desainer muslimah yang merancang busana kekinian dan mengumbar aurat. Boleh jadi ia tidak memakainya, namun dosa terlempar padanya dari pihak yang membuat bahkan memakai busana hasil sketsanya.

Ide adalah sebuah hal yang kecil, namun berefek besar kala kita dengan baik mengembangkannya. Tulislah ide sekecil apapun, dan rangkailah satu demi satu. Bisa disisipkan dengan pelajaran sekolah, atau kejadian di sekitar. Tapi tetap perhatikan etika bahasa. Jangan sampai cerita yang kita buat justru menyinggung orang lain, mungkin karena agama orang lain atau keburukan suatu suku daerah.

Yang terakhir adalah tetap berusaha dan berdoa. Ambillah hikmah walau sedikit dari tiap hal yang berbuah kegagalan, karena kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. Sebagai contoh, maksud hati memeluk gunung namun tangan tak sampai. Gambarlah gunung itu di atas kertas, lalu peluklah sepuas hati. Jika gagal di satu sisi, berfikirlah bahwa masih ada hal lain yang kita belum kerjakan, ‘mungkin aku harus menyelesaikan tugas sekolah dahulu’, atau ‘setidaknya aku tahu dimana letak kantor pos’, dan sebagainya. Dan Thomas Alfa Edison tidak akan pernah menemukan lampu apabila ia menyerah di kegagalannya yang ke-99 kali.

Salam literasi, dan mari tetap berjuang!

Oleh: Nabila Syifa Anadhi


Habis Melamun, Terbitlah tulisan Habis Melamun, Terbitlah tulisan Reviewed by Pena Juara on June 26, 2020 Rating: 5

No comments


Image Link [https://1.bp.blogspot.com/-tQY9J_6x1G0/XtPfL8xajjI/AAAAAAAAAF4/8_PRPMvvniYMZxUj7vWIxYzIfiY4iXsHQCLcBGAsYHQ/s1600/POST%2BYUHUY-23-min.png] Author Name [PenaJuara] Author Description [Read. Think. Write.] Facebook Username [soratemplates] Twitter Username [soratemplates] GPlus Username [104219125408123734587] Pinterest Username [soratemplates] Instagram Username [penajuaracom]